WELCOME TO BLOGGER FATHULLAH SYAHRUL

Rabu, 26 April 2017

Hakikat Kehidupan Ditemukan Pada Sosok Perempuan


(Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur Memoar Luka Seorang Muslimah)

“Ketidakmampuan kita untuk menjalani takdir yang sudah digariskan Tuhan berarti itu adalah titik kelemahan terhadap takdir itu sendiri”

- Fathullah Syahrul

Sejarah telah mencatat bahwa, manusia dilahirkan dimuka bumi ini disebakan oleh sebuah kecelakaan fatal kehidupan yang dialami oleh ciptaan Tuhan (Adam dan Hawa). Mereka harus jauh dari kenikmatan surga diakbitkan karena, kejadian singkat namun efeknya panjang yaitu kehidupan di dunia yang fana ini. Dan efek dari kejadian yang singkat dan fatal itu dialami oleh seorang muslimah yang bernama Nidah Kirana, perjalanannya mencari hakikat kehidupan tercatat jelas dalam karya novel yang ditulis oleh Muhidin M Dahlan.

Perjalanan itu bermula ketika dirinya sedang dalam kebingungan mencari makna hakiki dari sebuah kehidupan. Saat dirinya bergabung dan di baiat oleh jemaah yang memperjuangkan syariat Islam dan negara Islam iapun sangat menikmati, dimana dari perjalannanya itu ia merasa lebih dekat dengan sang pencipta. Sejak bergabung jemaah itu, ia merasa bahwa, menjalani hidup didunia ini sungguhlah menyenangkan ketika kita didukung oleh para jemaah yang secara terang-terangan memperjuangkan berdirinya negara Islam. Karena, hanya Islamlah yang akan membuat negara ini tentram dan aman.

Namun, sebuah fenomena besar kembali ia rasakan saat dirinya ingin mengetahui apa maksud dan tujuan dari gerakaan jemaah ini. Tetapi pertanyaan Kiran nampaknya seperti cermin tiada yang menggubris hanya untaian kata “kalau mau berjuang di jalan Allah tidak usah bertanya sebab, ini adalah perintah Allah yang harus di jalankan,” pernyataan itu selalu berulang-ulang. Kiran harus rela mengorbankan waktu, tenaga bahkan uang yang selalu dikirim oleh kakaknya yang ada di Amerika hanya untuk memberikan infaq kepada jemaah ini. Selama dirinya bergabung dalam jemaah tersebut selama itu pula jawaban dari pertanyaan yang selalu menghantui Kiran tak ujung terjawab, hingga pada suatu ketika dirinya mengambil sikap bahwa, jemaah ini sangat tidak layak untuk mencari jati diri sebab, jemaah ini terlalu tertutup dalam hal keterangannya tentang tujuan jemaah ini.


Mana mungkin gerakan ini akan berhasil kalau gerakan hanya secuil ini, itu mustahil dan tak akan pernah terjadi. Kebosanan, kehitaman, kegelapan selalu menghantui di sudut-sudut kos yang dihuni oleh Kiran. Kekecewaan yang selalu datang berkecamuk mengobrak-abrik hati dan fikiran Kiran untuk mengambil sebuah tindakan keluar dari lingkaran jemaah ini.

Hingga suatu ketika saat Kiran kembali ketempat dimana ia bertemu dengan salah seorang aktivis kiri di kampus Kiran kuliah yaitu, kampus Matahari Terbit yang bernama Daarul Rachim. Sebuah perjalanan awal Kiran melepas keperawanannya. Saat itu Daarul sebagai seorang aktivis kiri mengajak Kiran untuk datang ke kostnya dan disanalah perisiwa itu bermula saat dirinya dan Daarul berfantasi dengan melepas hasrat birahi dalam hubungan seks. Kiranpun melihat ketas langit-langit hitam yang hanya sedikit dibumbui oleh bintang tubuhku yang terluka.

Tanpa disadari Kiran menggugat bahwa, kalau seorang laki-laki gagah perkasa dan pintar beretorika dihadapan masyarakat sebagai pewaris tahta aktivis mahasiwa sudah sangat luar biasa tetapi kalau persoalan seks mereka tak ubahnya seperti harimau yang kehausan darah dan menguliti seorang perempuan sebagi objek birahinya, sangat jauh berbeda.

Petualangan mencari hakikat kehidupan tak sampai disitu saja Kiran sebagai seorang muslimah yang sangat kecewa dengan kelakuan para jemaah yang hanya memperjuangkan tegakknya negara Islam tetapi tidak tahu menahu apa maksud dan tujuannya. Kiran lebih memilih dan menampakkan sesuatu yang sudah digariskan Tuhan terhadapnya sebagai bagian dari takdir dan tanggungjawab yang harus diemban. Perjalanan dirinya menjadi seorang jalang dengan free sex bersama dengan dosennya, pengurus partai bahkan anggota dewan. Kiran sadar betul bahwa, kalau di siang hari mereka adalah penyelamat bagi orang kebanyakan tetapi pada malam hari mereka tak ubahnya seperti harimau yang keluar dari sangkarnya dan ingin menguliti dan mencumbu seluruh perempuan yang dianggapnya adalah penyampai takdir dari Tuhan.

Mereka semuanya para pembesar, para orang-orang elit bahkan sebagai wakil rakyat yang bertopeng untuk menutupi wajah bejatnya, menggadaikan tubuh molek seorang perempuan saat mereka sedang dalam keadaan melaksanakan tugas dan wewenang sebagai seorang wakil rakyat, semuanya bullshit, mereka hanya menggunakan topeng kemunafikan untuk menutupi sifat buruknya sebagai orang yang terhormat.

Seorang muslimah yang bernama Kiran sudah membuktikan itu bahwa, perjalanannya dalam dunia kelam bisa memberikan kita pelajaran bahwa, masih banyak orang-orang yang munafik diluar sana yang seolah-olah menjadi orang yang bersih, suci tetapi saat malam hari mereka tak ubahnya seperti binatang-bintang buas yang sedang mencari mangsa perempuan. Perjalanan atas kekecewaan terhadap Tuhan itulah yang membuat Kiran sangat tahu persis kejadian saat malam hari. Iapun menyampaikan kekecewaannya dan menggungat Tuhan sebagai keseimbangan hidup maka, Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur!!!

Makassar, 18 April 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar