(Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur Memoar Luka Seorang Muslimah)
“Ketidakmampuan kita untuk menjalani takdir yang sudah digariskan Tuhan berarti itu adalah titik kelemahan terhadap takdir itu sendiri”
- Fathullah Syahrul
Sejarah telah mencatat bahwa, manusia dilahirkan dimuka bumi ini disebakan oleh sebuah kecelakaan fatal kehidupan yang dialami oleh ciptaan Tuhan (Adam dan Hawa). Mereka harus jauh dari kenikmatan surga diakbitkan karena, kejadian singkat namun efeknya panjang yaitu kehidupan di dunia yang fana ini. Dan efek dari kejadian yang singkat dan fatal itu dialami oleh seorang muslimah yang bernama Nidah Kirana, perjalanannya mencari hakikat kehidupan tercatat jelas dalam karya novel yang ditulis oleh Muhidin M Dahlan.
Perjalanan itu bermula ketika dirinya sedang dalam kebingungan mencari makna hakiki dari sebuah kehidupan. Saat dirinya bergabung dan di baiat oleh jemaah yang memperjuangkan syariat Islam dan negara Islam iapun sangat menikmati, dimana dari perjalannanya itu ia merasa lebih dekat dengan sang pencipta. Sejak bergabung jemaah itu, ia merasa bahwa, menjalani hidup didunia ini sungguhlah menyenangkan ketika kita didukung oleh para jemaah yang secara terang-terangan memperjuangkan berdirinya negara Islam. Karena, hanya Islamlah yang akan membuat negara ini tentram dan aman.
Namun, sebuah fenomena besar kembali ia rasakan saat dirinya ingin mengetahui apa maksud dan tujuan dari gerakaan jemaah ini. Tetapi pertanyaan Kiran nampaknya seperti cermin tiada yang menggubris hanya untaian kata “kalau mau berjuang di jalan Allah tidak usah bertanya sebab, ini adalah perintah Allah yang harus di jalankan,” pernyataan itu selalu berulang-ulang. Kiran harus rela mengorbankan waktu, tenaga bahkan uang yang selalu dikirim oleh kakaknya yang ada di Amerika hanya untuk memberikan infaq kepada jemaah ini. Selama dirinya bergabung dalam jemaah tersebut selama itu pula jawaban dari pertanyaan yang selalu menghantui Kiran tak ujung terjawab, hingga pada suatu ketika dirinya mengambil sikap bahwa, jemaah ini sangat tidak layak untuk mencari jati diri sebab, jemaah ini terlalu tertutup dalam hal keterangannya tentang tujuan jemaah ini.

