WELCOME TO BLOGGER FATHULLAH SYAHRUL

Sabtu, 18 Juni 2016

Hitam Putih Mahasiswa




Sekelumit Sejarah Mahasiswa
            Mahasiswa yang di terjemahkan secara etimologi Maha artinya Besar dan Siswa artinya pelajar kemudian ditafsirkan sebagai pelajar yang peranannya diatas segalanya, dan juga memiliki tiga rangkaian fungsi yaitu Agent Of Change, Social Of Control dan Moral Of Force, sampai sekarang masih dijadikan sebuah kiblat oleh para mahasiswa. Meneropong jauh kebelakang dimana mahasiswa adalah sebagai tombak perubahan bangsa ini. Terbukti ketika pada 28 Oktober 1928 terjadi sebuah momentum yang tidak akan pernah hilang dari ingatan kita bersama, dimana pada saat itu dideklarasikan sebagai Sumpah Pemuda.
            Ketiga fungsi itulah, yang membuat para konsolidator Sumpah Pemuda mampu mendeklarasi dirinya pada momentum yang bersejarah itu. Peranan mahasiswa cukup besar dalam perjalanan bangsa ini, termasuk hadirnya Mahbub Djunaidi, Zamroni, Sok Hoe Gie dkk. Adalah sebuah bukti betapa eksistensi mahasiswa sangat dibutuhkan dan diperhitungkan oleh Negara dan bangsa pada waktu itu.
Mahasiswa & Gerakan Pasca Reformasi
            Flasback tentang mahasiswa Pasca Reformasi yang mampu menumbangkan rezim sentralistik dibawah naungan Bapak Soeharto pada tahun 1998. Yang dimonotori oleh beberapa aktivis-aktivis dari barbagai macam kampus seperti Universitas Indonesia dan Universitas Trisakti dan masih banyak lagi yang tidak bisa saya sebutkan. Melalui gerakannya berhasil menumbangkan rezim pada waktu. Perananan mahasiswa tidak di pertanyakan lagi karena, kita adalah saksi, sebagian mungkin bahkan menjadi pelaku, termasuk mahasiswa itu sendiri. Atas perubahan besar yang terjadi pada mei 1997 yang lalu.
            Hiruk pikuk aksi massa ketika itu dan gonjang-ganjing politik yang menyertainya, telah mampu merubuhkan sebuah rezim yang bertahan selama kurang lebih 32 tahun. Setelah itu, kita semua menyaksikan sebuah era baru, liberalisasi politik luar biasa telah terjadi. Atas nama demokrasi, partai politik menjamur dan pemilu yang diikuti yang diharapkan berjalan cepat, ternyata berlajan alot sampai hari ini.
            Diluar itu, aneka warna gerakan sosial berkecambah. Dan, yang tak tertuga, konflik horizontal mewabah di banyak daerah. Pendeknya liberalisasi yang serba mendadak itu, dampak negatifnya hampir saja menggoyahkan kestabilan sosial politik serta keamanan negeri ini.

Setelah melewati fase yang penuh krisis dan kerawanan, bolehlah kita sedikit melakukan refleksi dari hiruk pikuk sosial politik selama 12 tahun yang lalu. Tujuannya tidak lain agar kita dapat menarik perlajaran agar kita “tidak terrantuk pada batu yang sama” serta mempunyai bekal cukup dalam menyiapkan langkah kedepan secara lebih bijak. Tinjauan ini kami batasi pada gerakan-gerakan sosial politik yang tumbuh pada masa reformasi dengan sudut pandang gerakan-gerakan ideologis. (As’ad Said Ali, Ideologi Gerakan Pasca Reformasi, Di Halaman Kata Pengantar).
Bagaimana Mahasiswa Hari Ini?
            Hari ini membuka babak baru tentang kemahasiswaaan, gerakan-gerakan yang semakin masif ditorehkan oleh beberapa teman-teman aktivis dari berbagai kampus terkhusus kampus yang ada di Sulawesi Selatan. Mahasiswa yang kita kenal memiliki tiga fungsi yang telah saya sebutkan tadi’, sudah tidak lagi difungsikan sebagaimana fungsinya atau tidak ditempatkan lagi pada tempatnya. Aksi dan gerakan hanya sampai pada taraf aksi demonstrasi saja namun, masih memiliki hasil yang kurang maksimal, sebagai contoh kasus aksi demontrasi yang dilakukan oleh teman-teman aktivis yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Peduli UIN Alauddin Makassar pada saat kejadian kecelakan dua hari berturut-turut yang menewaskan tiga mahasiswa dari UIN Alauddin Makassar pada tahun 2015. Aksi demonstrasi yang hanya sampai pada taraf dijalan saja namun, tidak ada respont dari pihak Dinas Transportasi Kabupaten Gowa, artinya tindak lanjutnya tidak ada dan masih banyak kasus-kasus lain.
            Mahasiswa yang memiliki tiga peranan paling besar, sudah mulai punah ke-eksistensiannya itu dikarenakan entah itu terlalu banyak kepentingan atau apalah-apalah hehehe. Mengambil sedikit contoh kasus dua orang aktivis cetakan Forum Kota (FORKOT) yang mampu menumbangkan rezim yang berkuasa selama 32 tahun yaitu, Budiman Sujadmiko dan Adian Napitulu. Dalam gerakan 98 mereka adalah salah satu tokoh kunci yang rela berkoar-koar tentang Perubahan. Tapi sebelum itu saya meminjam lantunan Bang Rhoma Irama yang berjudul Reformasi yang berbunyi “Demi Perubahan Menggema Menggelora Sebagai Tuntutan & Juga Kebutuhan, Ini Perubahan Jadi Kesepakatan” jadi perubahan itu adalah sebuah kesepakatan/kontrak ketika kontraknya selesai yaa perubahan hanya perubahan saja, komitmen perubahan tidak lagi ditafsirkan seperti apa tujuan berdirinya bangsa ini yang secara jelas tertuang pada Pancasila. Lanjut yang tadi’, kedua tokoh tersebut yang pernah secara terang-terangan mengkritisi birokrasi pemerintaha pada saat itu namun, ternyata yang terjadi sekarang laah malah mereka yang terjung di permeritahan, mungkin itu hal yang wajar karena perubahan yang
 ditafsirkan para aktivis mahasiswa adalah sebuah kontrak dan mungkin kontrak dari kedua aktivis FORKOT itu sudah habis kali yaah. Dan melihat konteks yang sekarang bahwa gerakan-gerakan mahasiswa yang didaulat sebagai Agent Of Change, Sosial Of Control dan Moral Of Change yang outputnya ketika memegang pedikat itu dikatakan aktivis yang sering turun jalan yang dengan indah merangkai kata-kata isu untuk diangkat dan dijadikan sebuah gerakan demonstrasi. Walaupun semua mahasiswa yang ada di tanah air tidak semuanya begitu, tapi yang saya permasalahkan yang tidak begitu hehehe.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar