Sekelumit Sejarah Mahasiswa
Mahasiswa yang di terjemahkan secara
etimologi Maha artinya Besar dan Siswa artinya pelajar kemudian ditafsirkan
sebagai pelajar yang peranannya diatas segalanya, dan juga memiliki tiga
rangkaian fungsi yaitu Agent Of Change, Social Of Control dan Moral Of Force,
sampai sekarang masih dijadikan sebuah kiblat oleh para mahasiswa. Meneropong
jauh kebelakang dimana mahasiswa adalah sebagai tombak perubahan bangsa ini.
Terbukti ketika pada 28 Oktober 1928 terjadi sebuah momentum yang tidak akan
pernah hilang dari ingatan kita bersama, dimana pada saat itu dideklarasikan
sebagai Sumpah Pemuda.
Ketiga fungsi itulah, yang membuat
para konsolidator Sumpah Pemuda mampu mendeklarasi dirinya pada momentum yang
bersejarah itu. Peranan mahasiswa cukup besar dalam perjalanan bangsa ini,
termasuk hadirnya Mahbub Djunaidi, Zamroni, Sok Hoe Gie dkk. Adalah sebuah
bukti betapa eksistensi mahasiswa sangat dibutuhkan dan diperhitungkan oleh
Negara dan bangsa pada waktu itu.
Mahasiswa & Gerakan Pasca Reformasi
Flasback tentang mahasiswa Pasca
Reformasi yang mampu menumbangkan rezim sentralistik dibawah naungan Bapak
Soeharto pada tahun 1998. Yang dimonotori oleh beberapa aktivis-aktivis dari
barbagai macam kampus seperti Universitas Indonesia dan Universitas Trisakti
dan masih banyak lagi yang tidak bisa saya sebutkan. Melalui gerakannya
berhasil menumbangkan rezim pada waktu. Perananan mahasiswa tidak di
pertanyakan lagi karena, kita adalah saksi, sebagian mungkin bahkan menjadi
pelaku, termasuk mahasiswa itu sendiri. Atas perubahan besar yang terjadi pada
mei 1997 yang lalu.
Hiruk pikuk aksi massa ketika itu
dan gonjang-ganjing politik yang menyertainya, telah mampu merubuhkan sebuah
rezim yang bertahan selama kurang lebih 32 tahun. Setelah itu, kita semua
menyaksikan sebuah era baru, liberalisasi politik luar biasa telah terjadi.
Atas nama demokrasi, partai politik menjamur dan pemilu yang diikuti yang
diharapkan berjalan cepat, ternyata berlajan alot sampai hari ini.
Diluar itu, aneka warna gerakan
sosial berkecambah. Dan, yang tak tertuga, konflik horizontal mewabah di banyak
daerah. Pendeknya liberalisasi yang serba mendadak itu, dampak negatifnya
hampir saja menggoyahkan kestabilan sosial politik serta keamanan negeri ini.
Setelah
melewati fase yang penuh krisis dan kerawanan, bolehlah kita sedikit melakukan
refleksi dari hiruk pikuk sosial politik selama 12 tahun yang lalu. Tujuannya
tidak lain agar kita dapat menarik perlajaran agar kita “tidak terrantuk pada
batu yang sama” serta mempunyai bekal cukup dalam menyiapkan langkah kedepan
secara lebih bijak. Tinjauan ini kami batasi pada gerakan-gerakan sosial
politik yang tumbuh pada masa reformasi dengan sudut pandang gerakan-gerakan
ideologis. (As’ad Said Ali, Ideologi
Gerakan Pasca Reformasi, Di Halaman Kata Pengantar).
Bagaimana Mahasiswa Hari Ini?
Hari
ini membuka babak baru tentang kemahasiswaaan, gerakan-gerakan yang semakin
masif ditorehkan oleh beberapa teman-teman aktivis dari berbagai kampus
terkhusus kampus yang ada di Sulawesi Selatan. Mahasiswa yang kita kenal
memiliki tiga fungsi yang telah saya sebutkan tadi’, sudah tidak lagi
difungsikan sebagaimana fungsinya atau tidak ditempatkan lagi pada tempatnya.
Aksi dan gerakan hanya sampai pada taraf aksi demonstrasi saja namun, masih
memiliki hasil yang kurang maksimal, sebagai contoh kasus aksi demontrasi yang
dilakukan oleh teman-teman aktivis yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa
Peduli UIN Alauddin Makassar pada saat kejadian kecelakan dua hari
berturut-turut yang menewaskan tiga mahasiswa dari UIN Alauddin Makassar pada
tahun 2015. Aksi demonstrasi yang hanya sampai pada taraf dijalan saja namun,
tidak ada respont dari pihak Dinas Transportasi Kabupaten Gowa, artinya tindak
lanjutnya tidak ada dan masih banyak kasus-kasus lain.
Mahasiswa yang memiliki tiga peranan paling
besar, sudah mulai punah ke-eksistensiannya itu dikarenakan entah itu terlalu
banyak kepentingan atau apalah-apalah hehehe. Mengambil sedikit contoh kasus
dua orang aktivis cetakan Forum Kota (FORKOT) yang mampu menumbangkan rezim
yang berkuasa selama 32 tahun yaitu, Budiman Sujadmiko dan Adian Napitulu.
Dalam gerakan 98 mereka adalah salah satu tokoh kunci yang rela berkoar-koar
tentang Perubahan. Tapi sebelum itu saya meminjam lantunan Bang Rhoma Irama
yang berjudul Reformasi yang berbunyi “Demi
Perubahan Menggema Menggelora Sebagai Tuntutan & Juga Kebutuhan, Ini
Perubahan Jadi Kesepakatan” jadi perubahan itu adalah sebuah
kesepakatan/kontrak ketika kontraknya selesai yaa perubahan hanya perubahan
saja, komitmen perubahan tidak lagi ditafsirkan seperti apa tujuan berdirinya
bangsa ini yang secara jelas tertuang pada Pancasila. Lanjut yang tadi’, kedua
tokoh tersebut yang pernah secara terang-terangan mengkritisi birokrasi
pemerintaha pada saat itu namun, ternyata yang terjadi sekarang laah malah
mereka yang terjung di permeritahan, mungkin itu hal yang wajar karena
perubahan yang
ditafsirkan para aktivis mahasiswa adalah sebuah kontrak dan mungkin kontrak dari kedua aktivis FORKOT itu sudah habis kali yaah. Dan melihat konteks yang sekarang bahwa gerakan-gerakan mahasiswa yang didaulat sebagai Agent Of Change, Sosial Of Control dan Moral Of Change yang outputnya ketika memegang pedikat itu dikatakan aktivis yang sering turun jalan yang dengan indah merangkai kata-kata isu untuk diangkat dan dijadikan sebuah gerakan demonstrasi. Walaupun semua mahasiswa yang ada di tanah air tidak semuanya begitu, tapi yang saya permasalahkan yang tidak begitu hehehe.
ditafsirkan para aktivis mahasiswa adalah sebuah kontrak dan mungkin kontrak dari kedua aktivis FORKOT itu sudah habis kali yaah. Dan melihat konteks yang sekarang bahwa gerakan-gerakan mahasiswa yang didaulat sebagai Agent Of Change, Sosial Of Control dan Moral Of Change yang outputnya ketika memegang pedikat itu dikatakan aktivis yang sering turun jalan yang dengan indah merangkai kata-kata isu untuk diangkat dan dijadikan sebuah gerakan demonstrasi. Walaupun semua mahasiswa yang ada di tanah air tidak semuanya begitu, tapi yang saya permasalahkan yang tidak begitu hehehe.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar