WELCOME TO BLOGGER FATHULLAH SYAHRUL

Jumat, 29 April 2016

Islam & Gerakan Sosial Baru


Menasirkan Islam sebetulnya tidak boleh ditafsirkan setengah-setengah karena kalau ditafsirkan setengah-setengah akan seperti ini modelnya. Akan ada sekat yang kemudian akan model pengklaiman seperti sekarang semuanya menganggap mereka benar. Meminjam perkatakaan Mantan Pendeta yang masuk Islam Dr. Yahya Waloni bahwa Agama itu adalah kebaikan dan Islam itu adalah kebenaran.
Menanggapi hal yang seperti ini seandainya Islam adalah agama yang benar tidak mungkin dan tidak akan pernah ada agama lain yang diluar daripada dan seandainya Islam adalah agama yang benar tidak akan ada konflik internal di Islam itu sendiri. Jadi kalau semacam ini pengertian Islam secara substansi itu apa? Jadi masyarakat tidak   boleh disalahkan ketika mereka menanggapi Islam itu secara apatis dan memang tidak boleh disalahkan kalau mayoritas masyarakat memiliki pengertian bahwa Islam itu (Isya, Shubuh, Lohor/Dzuhur, Azhar, dan Maghrib) karena mereka hanya fokus menjalankan Syari’at Islam tanpa harus mengetahui makna substansi tentang Islam. Banyak Ulama dan Aktivis Islam yang memberikan kita pencerahan tentang Islam tapi sangat disayangkan orientasinya lagi pasti saling bertentangan dan memang itu yang terjadi di abad ke-21 ini.

            Munculnya Ormas Islam seperti NU dan Muhammadiyah membuka babak baru dikalangan masyakat khususnya Indonesia yang dikatakan sebagai mayoritas masyarakatnya Islam. Namun secara flashback sejarah NU dan Muhammadiyah adalah Ormas Islam yang berjalan secara beriringan tetapi saat sekarang ini sudah mulai rapuh dan sekat-sekat antara kedua Ormas Islam ini sudah tercium dimana NU menawarkan Islam Nusantara yang secara makna Fhilosophi antara Islam dan Nasionalisme saling berjalan, dan sedikit membuka apa yang dikatakan oleh Prof. Dr. KH. Aqil Siradj bahwa “Islam Nusantara itu adalah Islam yang dipadukan oleh Spirit Nasionalisme dan Islam yang melebur Budaya bukan Islam Arab, bukan Islam Gamis, bukan Jidad Hitam, Bukan Islam Jenggot”. Kemudian Ormas Islam Muhammadiyah yang menawarkan Islam Berkemajuan yang dimaknai secara substansi sebagai Islam Berperadaban/Islam yang Modern.
-          Islam Dalam Pembingkaian Gerakan Sosial Baru
Menganalisis keadaan sekarang tentunya kita banyak menemui model gerakan-gerakan sosial yang muncul mulai dari ekstrem kanan maupun ekstrem kiri. Dengan munculnya Gerakan Sosial Baru yang dicover dalam Gerakan Islam sebut saja seperti HTI yang kemudian ingin mendirikan Negara Islam (Islamic State), ISIS yang juga sebetulnya Gerakan Sosial Baru yang tujuannya memperjuangkan Islam, dan sekarang dimedia cetak, online dan televisi dihebohkan dengan munculnya Gerakan yang dikenal GAFATAR (Gerakan Fajar Nusantara). Dengan lahirnya gerakan-gerakan tersebut tentunya kita mampu mengatakan bahwa itu baru dibanding dengan NU dan Muhammadiyah secara garis waktu.
Gerakan-gerakan inilah yang sebetulnya harus kita maknai secara substansi apa maksud dan tujuan dari hadirnya gerakan ini. Karena gerakan-gerakan yang seperti ini sebetulnya semuanya berjuang atas nama Islam. Tentunya kita sebagai warga Negara Indonesia yang menganut mayoritas orang Islam pasti menginginkan Kebenaran yang Hakiki dari Islam itu sendiri agar dalam ibadah Syariah, Syariat, dan Fiqh mampu mengimplementasikan Islam juga dengan benar. Kalau kita memaknai Kebenaran itu adalah relatif berarti ini singkron dengan kejadian-kejadian yang terjadi saat sekarang ini dimana Islam terpecah menjadi sekte-sekte.
-          Teori Mobilisasi Sumber Daya – TMSD (Resources Mobilization Theory)
Lahirnya Teori TMSD ingin menjawab “Masalah Pendompengan Bebas (Free-Rider Problem) yang sudah lama mengahantui para aktivi gerakan, yakni masalah yang tercakuoo dalam logika: “Kalau kepentingan saya sudah diwaakili oleh orang-orang tertentu yang bersedia ikut didalam gerakan, mengapa pula saya perlu repot-repot dalam mengambil resiko ikut dalam gerakan”. Masalah ini sangat penting diatasi oleh para aktivis, khusunya pemimpin, gerakan karena gerakan-gerakan sosial tentu saja memerlukan dukungan seluas-luasnya. Jika seseorang berpotensi menjadi pendukung gerakan sosial tunduk kepada logika diatas, yang “mau terima bersih” maka kapan gerakan akan membesar? Para teoritikus TMSD datang dengan solusi bahwa “masalah pendompleng bebas” (Janine A. Clark dkk., 2012: 18-19) dapat diatasi dengan tumbuhnya apa yang mereka sebut sebagai “para Wirausahawan Politik” (Politik Entrepreneurs), dengan insentif-insentif terbatas tertentu.
Teori semacam ini adalah sebuah solusi yang tepat dalam menciptakan Islam yang bersinergi dengan kepentingan-kepentingan yang banyak sekarang mencover Islam. Namun ketika dalam sebuah gerakan Islam yang bernuangsa negatif tentunya akan berdampak negatif artinya hal-hal yang tidak dinginkan. Ketika banyak para aktivi Islam mengatakan bahwa akan ada saatnya dimana Islam akan terpecah tetapi saya berani untuk mangatakan bahwa akan juga ada saatnya Islam akan bersatu.



             

Tidak ada komentar:

Posting Komentar