Menasirkan Islam
sebetulnya tidak boleh ditafsirkan setengah-setengah karena kalau ditafsirkan setengah-setengah
akan seperti ini modelnya. Akan ada sekat yang kemudian akan model pengklaiman
seperti sekarang semuanya menganggap mereka benar. Meminjam perkatakaan Mantan
Pendeta yang masuk Islam Dr. Yahya Waloni bahwa Agama itu adalah kebaikan dan Islam
itu adalah kebenaran.
Menanggapi hal yang
seperti ini seandainya Islam adalah agama yang benar tidak mungkin dan tidak
akan pernah ada agama lain yang diluar daripada dan seandainya Islam adalah
agama yang benar tidak akan ada konflik internal di Islam itu sendiri. Jadi
kalau semacam ini pengertian Islam secara substansi itu apa? Jadi masyarakat
tidak boleh disalahkan ketika mereka
menanggapi Islam itu secara apatis dan memang tidak boleh disalahkan kalau
mayoritas masyarakat memiliki pengertian bahwa Islam itu (Isya, Shubuh,
Lohor/Dzuhur, Azhar, dan Maghrib) karena mereka hanya fokus menjalankan
Syari’at Islam tanpa harus mengetahui makna substansi tentang Islam. Banyak
Ulama dan Aktivis Islam yang memberikan kita pencerahan tentang Islam tapi
sangat disayangkan orientasinya lagi pasti saling bertentangan dan memang itu
yang terjadi di abad ke-21 ini.
Munculnya
Ormas Islam seperti NU dan Muhammadiyah membuka babak baru dikalangan masyakat
khususnya Indonesia yang dikatakan sebagai mayoritas masyarakatnya Islam. Namun
secara flashback sejarah NU dan Muhammadiyah adalah Ormas Islam yang berjalan
secara beriringan tetapi saat sekarang ini sudah mulai rapuh dan sekat-sekat
antara kedua Ormas Islam ini sudah tercium dimana NU menawarkan Islam Nusantara
yang secara makna Fhilosophi antara Islam dan Nasionalisme saling berjalan, dan
sedikit membuka apa yang dikatakan oleh Prof. Dr. KH. Aqil Siradj bahwa “Islam
Nusantara itu adalah Islam yang dipadukan oleh Spirit Nasionalisme dan Islam
yang melebur Budaya bukan Islam Arab, bukan Islam Gamis, bukan Jidad Hitam,
Bukan Islam Jenggot”. Kemudian Ormas Islam Muhammadiyah yang menawarkan Islam
Berkemajuan yang dimaknai secara substansi sebagai Islam Berperadaban/Islam
yang Modern.
-
Islam Dalam
Pembingkaian Gerakan Sosial Baru
Menganalisis keadaan
sekarang tentunya kita banyak menemui model gerakan-gerakan sosial yang muncul
mulai dari ekstrem kanan maupun ekstrem kiri. Dengan munculnya Gerakan Sosial
Baru yang dicover dalam Gerakan Islam sebut saja seperti HTI yang kemudian
ingin mendirikan Negara Islam (Islamic State), ISIS yang juga sebetulnya
Gerakan Sosial Baru yang tujuannya memperjuangkan Islam, dan sekarang dimedia
cetak, online dan televisi dihebohkan dengan munculnya Gerakan yang dikenal GAFATAR
(Gerakan Fajar Nusantara). Dengan lahirnya gerakan-gerakan tersebut tentunya
kita mampu mengatakan bahwa itu baru dibanding dengan NU dan Muhammadiyah
secara garis waktu.
Gerakan-gerakan inilah
yang sebetulnya harus kita maknai secara substansi apa maksud dan tujuan dari
hadirnya gerakan ini. Karena gerakan-gerakan yang seperti ini sebetulnya
semuanya berjuang atas nama Islam. Tentunya kita sebagai warga Negara Indonesia
yang menganut mayoritas orang Islam pasti menginginkan Kebenaran yang Hakiki
dari Islam itu sendiri agar dalam ibadah Syariah, Syariat, dan Fiqh mampu
mengimplementasikan Islam juga dengan benar. Kalau kita memaknai Kebenaran itu
adalah relatif berarti ini singkron dengan kejadian-kejadian yang terjadi saat
sekarang ini dimana Islam terpecah menjadi sekte-sekte.
-
Teori Mobilisasi
Sumber Daya – TMSD (Resources Mobilization Theory)
Lahirnya Teori TMSD ingin
menjawab “Masalah Pendompengan Bebas (Free-Rider Problem) yang sudah lama
mengahantui para aktivi gerakan, yakni masalah yang tercakuoo dalam logika:
“Kalau kepentingan saya sudah diwaakili oleh orang-orang tertentu yang bersedia
ikut didalam gerakan, mengapa pula saya perlu repot-repot dalam mengambil
resiko ikut dalam gerakan”. Masalah ini sangat penting diatasi oleh para
aktivis, khusunya pemimpin, gerakan karena gerakan-gerakan sosial tentu saja
memerlukan dukungan seluas-luasnya. Jika seseorang berpotensi menjadi pendukung
gerakan sosial tunduk kepada logika diatas, yang “mau terima bersih” maka kapan
gerakan akan membesar? Para teoritikus TMSD datang dengan solusi bahwa “masalah
pendompleng bebas” (Janine A. Clark dkk., 2012: 18-19) dapat diatasi dengan
tumbuhnya apa yang mereka sebut sebagai “para Wirausahawan Politik” (Politik
Entrepreneurs), dengan insentif-insentif terbatas tertentu.
Teori semacam ini
adalah sebuah solusi yang tepat dalam menciptakan Islam yang bersinergi dengan
kepentingan-kepentingan yang banyak sekarang mencover Islam. Namun ketika dalam
sebuah gerakan Islam yang bernuangsa negatif tentunya akan berdampak negatif
artinya hal-hal yang tidak dinginkan. Ketika banyak para aktivi Islam
mengatakan bahwa akan ada saatnya dimana Islam akan terpecah tetapi saya berani
untuk mangatakan bahwa akan juga ada saatnya Islam akan bersatu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar