WELCOME TO BLOGGER FATHULLAH SYAHRUL

Senin, 10 April 2017

Islam dan Kebhinekaan

Sebagai negara majemuk dihuni oleh beberapa suku, agama, ras dan budaya. Tolok ukur Indonesia sebagai negara yang majemuk terletak pada keberagaman. Keberagaman, itu dikukuhkan dalam semboyan “Bhineka Tunggal Ika”, walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu.

Dalam aspek agama misalnya, Indonesia salah satu negara yang cukup beragama, agama dan kepercayaan (pluralisme). Karena itu, agama sebagai penopang hidup atau bingkai bernegara dan bermasyarakat harus diarahkan untuk menerima dan merawat perbedaan sebagai bagian dari kekuatan bernegara (Bhineka Tunggal Ika).

Kekuatan itu ditandai melalui 4 pilar kebangsaan Pancasila, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Undang-undang 1945, dan Bhineka Tunggal Ika yang semuanya itu merupakan bentuk keberagaman sebagai perekat kekuatan bangsa Indonesia dengan kemajemukannya dalam suku, agama, ras dan budaya. 

Artinya, Kekuatan keberagaman (kebhinekaan) yang bersatu padu, bahu-membahu dan gotong royong adalah kenyataan yang tak terbantahkan. Gotong royong merupakan cerminan aspek kehidupan bangsa sebagai pondasi perekat bangsa ditengah keberagaman.

Fakta keberagaman (kebhinekaan) itu ditandai pula beragamnya agama sebagai penopang kekuatan kebhinekaan, salah satunya Islam. Tak bisa ditafsir lagi bahwa, agama Islam yang memiliki penganut mayoritas di Indonesia tidak serta merta hadir begitu saja tidak hadir secepat kilat. Rentetan sejarah panjang nan kelam dan menuai banyak kontroversi menjadi hal yang sangat penting untuk mengetahui sejarah dan proses hadirnya Islam ke Indonesia di tengah keberagaman.


Dalam aspek sejarah, proses penyebaran agama Islam di Nusantara (sekarang Indonesia). Islam dibawa ke Nusantara oleh pedagang dari Gujarat, India selama abad ke-11, meskipun Muslim telah mendatangi Nusantara sebelumnya. Pada akhir abad ke-16, Islam telah melampaui jumlah penganut Hindu dan Buddhisme sebagai agama dominan bangsa Jawa dan Sumatra. Bali mempertahankan mayoritas Hindu, sedangkan pulau-pulau timur sebagian besar tetap menganut animisme sampai abad 17 dan 18 ketika agama Kristen menjadi dominan di daerah tersebut.

Penyebaran Islam di Nusantara pada awalnya didorong oleh meningkatnya jaringan perdagangan di luar kepulauan Nusantara. Pedagang dan bangsawan dari kerajaan besar Nusantara biasanya adalah yang pertama mengadopsi Islam. Kerajaan yang dominan, termasuk Kesultanan Mataram (di Jawa Tengah sekarang), dan Kesultanan Ternate dan Tidore di Kepulauan Maluku di timur. Pada akhir abad ke-13, Islam telah berdiri di Sumatera Utara, abad ke-14 di timur laut Malaya, Brunei, Filipina selatan, di antara beberapa abdi kerajaan di Jawa Timur, abad ke-15 di Malaka dan wilayah lain dari Semenanjung Malaya (sekarang Malaysia). Meskipun diketahui bahwa penyebaran Islam dimulai di sisi barat Nusantara, kepingan-kepingan bukti yang ditemukan tidak menunjukkan gelombang konversi bertahap di sekitar setiap daerah Nusantara, melainkan bahwa proses konversi ini rumit dan lambat (Ricklefs, M.C, A History of Modern Indonesia, 1991).

Hal di atas menunjukkan proses penyebaran serta hadirnya Islam di Indonesia memang memiliki rentan waktu yang cukup panjang bahkan berabad-abad lamanya. Dari rentetan sejarah itulah beragam tokoh-tokoh penyebar Islam di Indonesiapun bermunculan. Sebut saja, Abdurrauf Singkel dan Muhammad Yusuf Al-Makassari pada abad ke-17. Wajah Islam yang dikenalkan oleh dua ulama ini bercorak puritan dan menganggap bahwa itu bentuk keberagamaan Islam yang paling benar dan ideal. Diaras ini, tradisi lokal masyarakat yang relevan dengan nilai-nilai Islam dintegrasikan menjadi sebuah tradisi beragama (Islam). Adat, tradisi, dan budaya lokal dinilai bukan sebagai ancaman terhadap otentisitas Islam. 

Tetapi hadirnya warna budaya lokal disini sering dipandang sebagai sesuatu yang bid’ah dan khurafat, seperti yang diperjuangkan Soekarmadji Maridjan Kartosoewirjo melalui perjuangan heroik DI/TII, yang lantas mendeklarasikan Negara Pasundan pada tanggal 7 Agustus 1949. Gerakan ini bertujuan menjadikan Republik Indonesia sebagai negara teokrasi dengan permurnian Agama Islam. 
Hal serupa juga terjadi di Sulawesi Selatan melalui motor penggerak Kahar Muzakkar dengan gerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII). Gerakan yang dijalankan oleh pasukan DI/TII juga bertujuan untuk menjadikan Indonesia sebagai Negara Islam (Daulah Islam). Proses penyebaran Islam seperti ini yang dikenal dengan Puritanisme Islam. 

Proses penyebaran Islam veris DI/TII diatas berbeda dengan apa yang dilakukan oleh  seorang tokoh penyebar Islam di Indonesia yaitu, Syeikh Jamaluddin Al-Husain al-Akbar atau Syeikh Jumadil Kubro beliau adalah kunci Islamisasi di tanah Jawa dan Sulawesi yang hidup sebelum Wali Songo. Ia mampu melihat situasi dan kondisi masyarakat yang ada saat itu adalah masyarakat yang memiliki ragam kebudayaan yang berbeda-beda.

Kebudayaan yang paling menonjol di nusantara saat itu adalah sistem padepokan. Olehnya itu Syeikh Jumadil Kubro memulai menyebarkan Islam di padepokan-padepokan dengan menyerukan kepada semua masyarakat yang ingin belajar tentang Islam melalui pedepokan. Kejadian inilah yang membuat sehingga Islam diterima dengan baik karena, Islam mampu berdialog dengan masyarakat dengan dalih penyatuan Islam dengan kultur budaya kala itu. Proses penyebaran Islam seperti ini yang dikenal dengan Akulturasi Budaya yaitu, penyatuan Islam dengan budaya tanpa menghilangkan nilai-nilai budaya yang dianut oleh masyarakat pada saat itu.

Dengan gaya akulturasi itulah masalah kebhinekaan di negeri ini bisa seiring sejalan dengan Islam. Akhirnya, melihat kondisi saat ini bagi seluruh masyarakat Indonesia harus dituntut untuk menjaga kedamaian tanpa ada sekat-sekat suku, agama, ras dan budaya. Sebab itu adalah tujuan kita berbangsa dan bernegara sesuai yang termaktub dalam Bhineka Tunggal Ika. Dengan demikian, untuk menjaga harmonisasi sosial dan kedamaian sosial ditengah fakta kebhinekaan NKRI, maka model akulturasi inilah yang harus di pertahankan dan dilanjutkan. 

(Terbit di Tribun Timur, Edisi Jumat 7 April 2017)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar