WELCOME TO BLOGGER FATHULLAH SYAHRUL

Senin, 10 April 2017

Senjakala PMII?

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia yang disingkat PMII adalah organisasi kemahasiswaan yang dideklarasikan pada 17 April 1960 di gedung Madrasah Mualimin Nahdlatul Ulama (NU) Wonokromo Surabaya oleh 13 mahasiswa NU dari berbagai daerah. Organisasi ini merupakan organisasi tradisionalis di berbagai perguruan tinggi, sebagai organisasi kemahasiswaan posisi PMII semakin diperhitungkan terbukti ketika gerakan PMII mampu mewarnai gerakan mahasiswa pada saat itu. Membawa nilai-nilai Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah yang berasaskan Pancasila dan menjaga keutuhan bangsa dan negara.

Melalui sumber daya PMII yang kiat melakukan kaderisasi, kader PMII selalu terlibat dalam setiap momen perubahan. Pada kongres ke-II di Yogyakarta pada masa orde lama PMII menyatakan tekadnya untuk selalu berpihak kepada amanah penderitaan rakyat yang kemudian di implementasikan dalam dokumen "Penegasan Yogyakarta". Pada saat itu juga PMII mendukung atas terselenggaranya Konferensi Asia Afrika dalam rangka menginisiasi kemerdekaan serta pentingnya kerjasama internasional.

Pada masa orde baru periode keempat dibawah pimpinan sahabat Zamroni, PMII semakin diperhitungkan dikalangan organisasi kemahasiswaan, terbukti ketika Ketua PB PMII masa khidmat 1967-1973 itu terpilih sebagai Ketua Presidium Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI), PMII juga mencetuskan dokumen historis yang dikenal dengan "Tri Sikap Jakarta". Salah satu momentum bersejarah yang juga dicetuskan PMII adalah independensi PMII pada tanggal 14 Juli 1972 di Malang Jawa Timur yang dikenal dengan "Deklarasi Murnajati". Sepanjang sejarah PMII telah dipimpin oleh 26 Ketua Umum (Lacak Sejarah PMII).

Itu mungkin sekelumit kisah tentang organisasi yang besar ini (PMII). Tidak bisa kita pungkiri bahwa lahirnya sebuah organisasi tidak bisa terlepas dari manuver politik yang erat kaitannya dengan PMII. Sejarah yang panjang ini tidak akan pernah kita hilangkan karena, itu akan dijadikan sebagai bahan refleksi untuk menatap masa depan yang lebih baik.

Organisasi kemahasiswaan ini akan tetap hidup ketika kaderisasi akan terus dilanjutkan termasuk di Sulawesi Selatan mulai dari tataran Rayon hingga Koordinator Cabang mungkin juga pengurus besar. Secara teritorial PMII di Sulawesi Selatan termasuk icon terbesar yang memiliki kader terbanyak di Indonesia Timur. Olehnya itu tidak bisa di pungkiri bahwa dalam setiap perhelatan kongres yang digelar oleh PB PMII kader dari Sulawesi Selatan tak pernah absen dalam kontestasi politik dua tahunan itu.

Pada perhelatan Kongres ke-XIX tahun 2017 yang akan digelar di Palu, PMII Sulawesi Selatan tetap terlibat dalam pemilihan itu terbukti ketika Muh. Syarif Hidayatullah (Chaliq) selaku kader PMII Sulawesi Selatan menjadi salah satu kandidat untuk bertarung di arena kongres. Namun, sangat disayangkan terpilihanya Chaliq sebagai kandidat PB disertai dengan manuver politik yang panas di tubuh PMII Sulawesi Selatan. Isunya banyak mulai dari politik kekerabatan, politisasi SK, Konfercab palsu dll.

Beberapa teman-teman mahasiswa dalam setiap diskusi dan konsolidasi sering mengatakan bahwa, "Kita Besar Melalui Konflik". Apa yang besar dan siapa yang besar dalam konflik ini? Bila besar yang dimaksud adalah untuk membesarkan institusi barangkali itu keliru, sebab terasa konflik ini justru mengkerdilkan institusi sebab dengan konflik ini institusi menjadi tidak produktif. Bila besar yang dimaksud disini adalah untuk membesarkan kader-kadernya inipun mungkin keliru sebab konflik ini terasa membuat kader hilang dalam terang tak tau mau kemana tak tau arah dan jalan mana yang akan ditempuh di tengah gemuruh konflik. Jadi, ungkapan kita besar melalui konflik mesti ditelisik.

Penelisikan itu penting, sebab takdir PMII adalah takdir untuk bangsa, artinya, ia hadir untuk bangsa, untuk publik tetapi nampaknya konflik ini membuat PMII di Sulawesi Selatan raib pesona di mata publik dengan kata lain. Organisasi ini sedang membangun jalan menuju krisis kepercayaan publik.
Krisis kepercayaan publik itu terasa dalam berbagai hal, misalnya kehadiran PMII di panggung publik menjadi langka, kaum Mustadh'afin yang sebelumnya menjadikan PMII sebagai "juru selamat" di jabat, dan penguasa zalim tak lagi menganggap PMII keramat. Ini semua adalah bukti kecil dari sebuah persoalan besar, redupnya PMII di mata publik, bahkan mungkin tidak ada. Barangkali itu semua adalah efek dari produktifnya organisasi ini (PMII Sulawesi Selatan) menebar sengketa internal. Memang benar konflik adalah bagian dari dinamika, tetapi tentu dinamika yang dimaksud adalah dinamika yang produktif; mencipta ide baru dan gerakan baru.

Bila begitu apakah rentetan konflik PMII Sulawesi Selatan yang terus bertumbuh selama ini bersifat produktif dalam arti memproduksi gerakan yang relevan dengan tujuan organisasi ini? Bila kita gagal menjawab pertanyaan ini cepat atau lambat organisasi ini akan menemui senjakalanya. Lalu dimana jawaban pertanyaan itu ditemukan? jawabnya, jangan tanya pada rumput yang bergoyang. Tanyalah pada kader yang sering bergoyang-goyang ditengah buaian konflik.

(Catatan Pinggiran: Makassar, 26 Maret 2017)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar