Tanggal 9 Desember 2015
kemarin beberapa daerah yang ada di Indonesia telah melaksanakan proses
pemilihan Pemimpin di setiap daerah. Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA) Serentak
tahu n 2015 adalah sebuah momentum yang sangat sensitif dalam hal tanggapan
dari masyarkat itu sendiri. Karena mayoritas masyarakat yang ada di Negeri ini
akan menyambut pemimpinnya dari berbagai macam karakter yang berbeda-beda.
Dari beberapa kandidat
yang maju bertarung di PILKADA serentak tahun 2015 sekian banyaknya masih ada
yang incombent. Ini yang kemudian menjadi tantangan baru buat para pemimpin dan
rakyat yang dipimpin untuk tetap menjaga sinergitas. Dari berbagai macam
karakter pemimpin didalam setiap daerah yang dipimpinnya tentunya memerlukan
sebuah skill untuk dapat memanage masyarakat yang ada dimasing-masing daerah
agar tidak adalagi yang saling berseberangan.
Pemimpin sejatinya
adalah tidak terlalu memerlukan yang namanya sebuah konsep teori namun yang
paling penting ditanamkan dalam diri seorang pemimpin adalah proses
aktualisasi. Meminjam perkataan Sang
Guru Bangsa KH. Abdul Rahman Wahid atau sering kali disapa GUSDUR dalam proses
kepemimpinannya dalam menahkodai Negeri ini sering kali terlontar kata-kata Gitu Aja Kok Repot. Kata ini yang sangat
mendalam sekali ketika kita memaknai secara Philosofis, seorang pemimpin dalam
memecahkan sebuah masalah yang ada didaerahnya tentu harus terbuka kepada
masyarakatnya agar antara pemimpin dan masyarakat tidak ada tumpang tindih.
Dalam proses tahapan
PILKADA yang digelar secara serentak di setiap daerah yang ada di Indonesia,
tentunya akan melahirkan seorang pemimpin yang nantinya akan mampu secara skill
maupun mental untuk mengurusi rakyatnya. Kemudian akan mencetak gagasan-gagasan
yang baru yang tidak hanya memberikan suara yang hanya sampai ditelinga rakyat
tapi mampu untuk diaktualisasikan. Teringat tentang pernyataan salah seorang
Ketua Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Kecamatan Cenrana Kabupaten Maros Bapak
Muhammad Kasim “Perlu ada sinergitas kata-kata antara pemimpin dan masyarakat,
karena mayoritas masyarakat yang ada di Negeri ini tidak terlalu paham tentang
bagaimana memaknai aturan secara teori namum sedikit banyaknya masyarakat yang
paham memaknai aturan secara aktualisasi’.
Namun apa yang sekarang
kita bicarakan itu hanya sekedar angan-angan saja dalam proses kepemimpinan
seseorang apalagi hasil cetakan PILKADA tahun 2015 akan menjadi tantangan besar
bagi daerah yang menyelenggarakan dan Negara Kesatuan Repubik Indonesia pada
umumnya. Tipologi hasil cetakan dari PILKADA tahun 2015 ini tentunya menuai
banyak kontroversi Mengapa? Pertanyaan itu keluar karena dalam proses
pertarungan masing-masing kandidat sedikit banyaknya melewati proses diatas
batas karena melakukan pelanggaran Peranturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU). Politik
Trasaksional atau akrab disebut Money Politik yang sudah menjadi budaya dalam
setiap pemilihan pemimpin, dan meminjam perkataan Bapak Syahrul salah seorang
tokoh masyarakat yang menetap di Dareah Kabupaten Majene Provinsi Sulawesi
Barat beliau mengatakan “Rata-rata pemimpin sekarang terpilih karena uang” ini
kesaksiannya ketika PILKADA kemarin ada salah seorang kandidat yang membagi
uang sebesar 100 Ribu Rupiah/Orang.
Dalam proses tahapan
PILKADA Serentak Tahun 2015 tentunya akan lebih menarik karena ada beberapa
calon pemimpin yang latar belakangnya dari artis. Ini sangat menarik akan kita
tunggu apakah popilaritas mereka dalam dunia politik akan semakin menjadi-jadi
atau sebaliknya. Ini adalah sebuah tantangan bagi masyarakat dari daerah yang
menyelenggarakan PILKADA Tahun 2015 menyambut pemimpin dari berbagai macam
karakter yang berbeda dalam kemampuannya memanage daerah masing-masing.
Menyambut pemimpin baru sama saja menyambut bintang atau penjahat baru, dan
pertanyaan itu akan terjawab dalam proses masa kepemimpanannya masing-masing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar