WELCOME TO BLOGGER FATHULLAH SYAHRUL

Sabtu, 12 Desember 2015

Menyambut Pemimpin Baru Dari Berbagai Macam Karakter



Tanggal 9 Desember 2015 kemarin beberapa daerah yang ada di Indonesia telah melaksanakan proses pemilihan Pemimpin di setiap daerah. Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA) Serentak tahu n 2015 adalah sebuah momentum yang sangat sensitif dalam hal tanggapan dari masyarkat itu sendiri. Karena mayoritas masyarakat yang ada di Negeri ini akan menyambut pemimpinnya dari berbagai macam karakter yang berbeda-beda.
Dari beberapa kandidat yang maju bertarung di PILKADA serentak tahun 2015 sekian banyaknya masih ada yang incombent. Ini yang kemudian menjadi tantangan baru buat para pemimpin dan rakyat yang dipimpin untuk tetap menjaga sinergitas. Dari berbagai macam karakter pemimpin didalam setiap daerah yang dipimpinnya tentunya memerlukan sebuah skill untuk dapat memanage masyarakat yang ada dimasing-masing daerah agar tidak adalagi yang saling berseberangan.
Pemimpin sejatinya adalah tidak terlalu memerlukan yang namanya sebuah konsep teori namun yang paling penting ditanamkan dalam diri seorang pemimpin adalah proses aktualisasi.  Meminjam perkataan Sang Guru Bangsa KH. Abdul Rahman Wahid atau sering kali disapa GUSDUR dalam proses kepemimpinannya dalam menahkodai Negeri ini sering kali terlontar kata-kata Gitu Aja Kok Repot. Kata ini yang sangat mendalam sekali ketika kita memaknai secara Philosofis, seorang pemimpin dalam memecahkan sebuah masalah yang ada didaerahnya tentu harus terbuka kepada masyarakatnya agar antara pemimpin dan masyarakat tidak ada tumpang tindih.

Dalam proses tahapan PILKADA yang digelar secara serentak di setiap daerah yang ada di Indonesia, tentunya akan melahirkan seorang pemimpin yang nantinya akan mampu secara skill maupun mental untuk mengurusi rakyatnya. Kemudian akan mencetak gagasan-gagasan yang baru yang tidak hanya memberikan suara yang hanya sampai ditelinga rakyat tapi mampu untuk diaktualisasikan. Teringat tentang pernyataan salah seorang Ketua Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Kecamatan Cenrana Kabupaten Maros Bapak Muhammad Kasim “Perlu ada sinergitas kata-kata antara pemimpin dan masyarakat, karena mayoritas masyarakat yang ada di Negeri ini tidak terlalu paham tentang bagaimana memaknai aturan secara teori namum sedikit banyaknya masyarakat yang paham memaknai aturan secara aktualisasi’.
Namun apa yang sekarang kita bicarakan itu hanya sekedar angan-angan saja dalam proses kepemimpinan seseorang apalagi hasil cetakan PILKADA tahun 2015 akan menjadi tantangan besar bagi daerah yang menyelenggarakan dan Negara Kesatuan Repubik Indonesia pada umumnya. Tipologi hasil cetakan dari PILKADA tahun 2015 ini tentunya menuai banyak kontroversi Mengapa? Pertanyaan itu keluar karena dalam proses pertarungan masing-masing kandidat sedikit banyaknya melewati proses diatas batas karena melakukan pelanggaran Peranturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU). Politik Trasaksional atau akrab disebut Money Politik yang sudah menjadi budaya dalam setiap pemilihan pemimpin, dan meminjam perkataan Bapak Syahrul salah seorang tokoh masyarakat yang menetap di Dareah Kabupaten Majene Provinsi Sulawesi Barat beliau mengatakan “Rata-rata pemimpin sekarang terpilih karena uang” ini kesaksiannya ketika PILKADA kemarin ada salah seorang kandidat yang membagi uang sebesar 100 Ribu Rupiah/Orang.
Dalam proses tahapan PILKADA Serentak Tahun 2015 tentunya akan lebih menarik karena ada beberapa calon pemimpin yang latar belakangnya dari artis. Ini sangat menarik akan kita tunggu apakah popilaritas mereka dalam dunia politik akan semakin menjadi-jadi atau sebaliknya. Ini adalah sebuah tantangan bagi masyarakat dari daerah yang menyelenggarakan PILKADA Tahun 2015 menyambut pemimpin dari berbagai macam karakter yang berbeda dalam kemampuannya memanage daerah masing-masing. Menyambut pemimpin baru sama saja menyambut bintang atau penjahat baru, dan pertanyaan itu akan terjawab dalam proses masa kepemimpanannya masing-masing.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar