Detik
jam menuju menit dan menit menuju jam setiap hari berganti hari setiap saat
kulangkahkan kakiku menuju kerumah yang jaraknya terhitung dalam Matematika
sekitar 15 meter. Hanya satu ku niatka mengapa aku ingin selalu tepat berada
dirumah itu hanya karena ingin melihat senyuman dari gadis yang saya nobatkan
sebagai Bidadari Desa yang sebetulnya adalah salah seorang Mahasiswi yang
sedang melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Seandainya senyumnya diibaratkan
seperti air yang memiliki ciri-ciri mengalir dari tempat tinggi kerendah dan akan
kutawarkan diriku sebagai penadah agar air itu bisa mengalir terus.
Desa
itu akan kumintai pertanggungjawaban mengapa aku harus dipertemukan dalam
keadaan yang mustahil ditemui. Ketika pertemuan yang pertama ketika dia memulai
langkahnya masuk dalam kerumunan Mahasiswa yang sementara Melaksanakan pembekalan,
andaikan aku seorang adipati kerajaan akan kusuruh anak buahku untuk menyiapkan
karpet tempat dia berjalan sayang kakinya akan lecet. Hal yang paling
memberatkan ketika terdengar bahwa ternyata dia sudah memiliki seorang raja
yang tampuk kepemimpinannya sudah berkisar kurang lebih 2 tahun waktu yang
cukup lama untuk meraih sebuah konsistensi namun ini adalah sebuah kemungkinan
yang nampaknya agak sulit tapi lewat itu kemungkinan itupun akan selalu aku
semogakan.
Sebetulnya
dia adalah sosok wanita yang mampu membuat orang lain terkesima sampai-sampai
camerapun ikut terlarut karena menurut hasil cetakan camera dia itu pesek namun
mata ini melihat dan bisa berputar 180 derajat. Waktu semakin berputar tanpa
terasa pertemuan itu akan segera berakhir karena aku merasa bahwa pertemuan ini
sangat singkat namun melalui itu walaupun aku jarang melaksanakan sholat tapi
dalam setiap do’aku akan selalu mengalir dan sontak bertanya pada setiap
rerumputan yang aku lewati dalam setiap langkah pertayaan itu adalah apakah
kata kemungkinan itu akan berubah?. Walaupun kemungkinan itu sangat mustahil
karena melihat bahwa dia adalah sosok perempuan yang begitu penyayang, rendah
hati, baik, dan sangat sulit menemukan sosok yang seperti ini ettss masih ada
satu lagi Cerewet.
Harapan
terbesar yang terpendam dalam tirai hati ini adalah agar senyuman itu tidak
pernah surut namun ketika senyuman itu surut akan kuusahakan agar senyumnya
kembali dalam agar aku tetap tenggelam dalam senyum yang begitu sederhana
dipancarkan dari raut wajahnya yang masih dibumbui oleh kemungkinan itu. Entah
mimpi apa aku ini yang merasakan sesuatu yang belum pernah dirasakan
sebelumnya. Dan akupun bertanya pada diriku sendiri apakah memang dia masa
depanku harapan itu akan tetap terbalut oleh komitmen dan konsistensi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar