WELCOME TO BLOGGER FATHULLAH SYAHRUL

Selasa, 26 April 2016

Menemukan Kemungkinan


Detik jam menuju menit dan menit menuju jam setiap hari berganti hari setiap saat kulangkahkan kakiku menuju kerumah yang jaraknya terhitung dalam Matematika sekitar 15 meter. Hanya satu ku niatka mengapa aku ingin selalu tepat berada dirumah itu hanya karena ingin melihat senyuman dari gadis yang saya nobatkan sebagai Bidadari Desa yang sebetulnya adalah salah seorang Mahasiswi yang sedang melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Seandainya senyumnya diibaratkan seperti air yang memiliki ciri-ciri mengalir dari tempat tinggi kerendah dan akan kutawarkan diriku sebagai penadah agar air itu bisa mengalir terus.
Desa itu akan kumintai pertanggungjawaban mengapa aku harus dipertemukan dalam keadaan yang mustahil ditemui. Ketika pertemuan yang pertama ketika dia memulai langkahnya masuk dalam kerumunan Mahasiswa yang sementara Melaksanakan pembekalan, andaikan aku seorang adipati kerajaan akan kusuruh anak buahku untuk menyiapkan karpet tempat dia berjalan sayang kakinya akan lecet. Hal yang paling memberatkan ketika terdengar bahwa ternyata dia sudah memiliki seorang raja yang tampuk kepemimpinannya sudah berkisar kurang lebih 2 tahun waktu yang cukup lama untuk meraih sebuah konsistensi namun ini adalah sebuah kemungkinan yang nampaknya agak sulit tapi lewat itu kemungkinan itupun akan selalu aku semogakan.

Sebetulnya dia adalah sosok wanita yang mampu membuat orang lain terkesima sampai-sampai camerapun ikut terlarut karena menurut hasil cetakan camera dia itu pesek namun mata ini melihat dan bisa berputar 180 derajat. Waktu semakin berputar tanpa terasa pertemuan itu akan segera berakhir karena aku merasa bahwa pertemuan ini sangat singkat namun melalui itu walaupun aku jarang melaksanakan sholat tapi dalam setiap do’aku akan selalu mengalir dan sontak bertanya pada setiap rerumputan yang aku lewati dalam setiap langkah pertayaan itu adalah apakah kata kemungkinan itu akan berubah?. Walaupun kemungkinan itu sangat mustahil karena melihat bahwa dia adalah sosok perempuan yang begitu penyayang, rendah hati, baik, dan sangat sulit menemukan sosok yang seperti ini ettss masih ada satu lagi Cerewet.
Harapan terbesar yang terpendam dalam tirai hati ini adalah agar senyuman itu tidak pernah surut namun ketika senyuman itu surut akan kuusahakan agar senyumnya kembali dalam agar aku tetap tenggelam dalam senyum yang begitu sederhana dipancarkan dari raut wajahnya yang masih dibumbui oleh kemungkinan itu. Entah mimpi apa aku ini yang merasakan sesuatu yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Dan akupun bertanya pada diriku sendiri apakah memang dia masa depanku harapan itu akan tetap terbalut oleh komitmen dan konsistensi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar